Chan Indonesia Teacher
Yoga 瑜伽 and Other Supporting Methods

Konon, Bodhidharma mengajarkan berbagai praktik yoga. Di Chan kita mengenal praktik yoga berdiri, duduk dan berbaring. Bermeditasi lewat tiap gerakan, memberikan perhatian pada tiap proses asana, mengharmoniskan tubuh, napas dan batin.

Deep Inhalation and Sighing

Preview Image


Metode DIS adalah sebuah praktik “Letting Go” – latihan melepas kelekatan kita terhadap tubuh dan pikiran dengan aksi gesture nyata.

Diunduh antara lain dari ilmu maha samatha vipasyana dan teknik qi gong, tergambar di ilustrasi foto, metode DIS utamanya berfokus pada aksi seluruh tubuh secara bersama-sama serentak bernapas. Kita jangkarkan kesadaran di sini-sekarang dengan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada aksi bernapas. Napas masuk, menyiratkan: rasa siap, terbuka, dan menerima (acceptance) apa pun yang akan dan telah terjadi dalam kehidupan. Sedangkan napas keluar, menyiratkan: letting go. Merelakan hal-hal yang telah terjadi dan juga yang belum terjadi.

Secara psikologis, metode DIS merupakan sebuah bentuk dari release-relief.  Menarik napas panjang dan dalam akan memberi sinyal ke sistem syaraf parasimpatis yang secara otomatis akan membuat pikiran dan tubuh lebih calm down serta memberi efek relaks. Tubuh dan pikiran yang lebih relaks akan memberi kondisi yang lebih kondusif dalam mengaplikasikan metode meditasi yang lebih sublim.

Secara fisiologis, ketegangan emosional dan psikologis yang dihadapi seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat mengakibatkan pola bernapas yang pendek, kasar dan dangkal. Dalam jangka waktu lama, ini akan membuat paru-paru menjadi kaku, kurang efisien dalam pertukaran udaranya, bahkan udara yang terperangkap di bagian bawah paru-paru menjadi toxic. Fungsi paru-paru pun tidak lagi secara optimal memasok oksigen bagi kebutuhan tubuh. Latihan DIS menstimulasi rongga paru-paru agar lebih fleksibel, diberdayakan secara maksimal, dengan demikian akan memberi pengaruh positif pada kesehatan tubuh dan pikiran.

Progressive Muscle Relaxation 


Preview Image


Relaksasi –melepas kemelekatan-kemelekatan kita—adalah fondasi atau bahkan esensi dari praktik Chan.

Latihan PMR adalah teknik relaksasi yang bisa digunakan untuk menangani stress, anxiety; insomnia, dan juga untuk mengurangi gejala-gejala berbagai nyeri kronis di tubuh. Metode PMR dilakukan dengan cara mengencangkan atau mengontraksikan satu per satu kelompok otot-otot besar (major muscles) dan kemudian merelakskannya. Rasa relaksasi yang terjadi pada otot-otot bagian dalam tubuh akan memicu respon psikologis pada pikiran sehingga memberi jeda pada pikiran untuk ikut merelaks.

Di Chan, PMR tidak hanya digunakan untuk merelakskan tubuh, tapi juga untuk melatih pikiran. Saat mempraktikkan PMR, kesadaran diarahkan ke kelompok otot yang sedang dikerjakan itu, untuk merasakan sensasi tubuh yang tegang; lalu sensasi melepas yang ditandainya dengan sensasi kendornya ketegangan; dan sensasi rasa relaks.

Dengan terus menerus mengarahkan dan menjangkarkan kesadaran secara sengaja untuk merasakan sensasi otot, ini akan meredakan pikiran acak yang sibuk. Alih-alih mengembara tidak keruan, dengan mengaplikasikan metode ini, pikiran akan jadi lebih terkumpul dan terkonsentrasi sehingga lebih mantap dan relaks.

PMR ini juga merupakan latihan untuk membangun auto-response habit yang memutar balik proses terjadinya ketegangan di tubuh sebagai dampak dari ketegangan emosional dan psikologis. Dengan demikian, setiap terjadi ketegangan emosional dan psikologis, praktisi Chan akan dengan cepat segera mampu mendeteksi dan merelakskan ketegangan itu. Merelakskan adalah dengan cara melepas atau letting go.

Dengan demikian, praktisi Chan menggunakan PMR sebagai salah satu metode untuk membangun habit dari letting go yang merupakan inti dari praktik meditasi.



Tea Meditation

Preview Image