Chan Indonesia Teacher
Prostration

Namaskara di dalam Buddhisme merupakan suatu bentuk penghormatan. Namaskara, di dalam Chan, merupakan bentuk lain dari praktik meditasi dalam gerak.

Pikiran dan tubuh yang aktif akan lebih mudah diarahkan dan diredakan dengan menjangkarkan seluruh perhatian pada sensasi tubuh yang masih dalam kondisi bergerak, namun bergerak secara lambat, sederhana dan monoton.  Jika Anda baru saja berada di kondisi pikiran yang sibuk, maka umumnya akan lebih sulit jika pikiran sibuk itu langsung diarahkan untuk mengamati napas dalam meditasi duduk.

Dengan demikian, praktik namaskara ini dapat menjadi jembatan antara kehidupan sehari-hari yang aktif dengan praktik meditatif yang lebih tenang, seperti misalnya, meditasi duduk dan mengamati napas.

Ketika melakukan namaskara, perhatian atau kesadaran diarahkan untuk merasakan setiap gerakan dari proses namaskara. Praktisi dapat memilih melakukan namaskara dengan cepat ataupun lambat, biasanya ini akan sejalan dengan kondisi dari pikiran si praktisi itu sendiri.

Selain melatih perhatian agar terjangkarkan di gerakan tubuh, praktik namaskara juga menumbuhkan rasa berserah dan kerendahan hati, yang esensial di dalam praktik Chan. Rasa berserah akan membantu ketika praktisi “sekadar mengamati” fenomena dalam berlatih. Kerendahan hati, sebagai lawan dari keterpusatan diri (ego), merupakan sikap melepas dan melonggarkan batin, untuk relaksasi yang lebih mendalam.