Meninggalkan Kota: Bahaya Tersembunyi dari Dualitas dan Materialisme Spiritual
Chan Indonesia Blog
November 02, 2011
Written by: Admin

Banyak umat Buddha sekarang ini meninggalkan kota. Kehidupan kota sangatlah sibuk dan membingungkan (hectic), terburu-buru (frantic), dan kacau (scattered). Jadi sangatlah masuk akal jika para praktisi yang ingin memperlambat hidup pada kecepatan yang sedang (sane), memutuskan untuk pindah ke luar kota. Pada faktanya, siapapun yang ingin memperlambat hidup mereka untuk menikmatinya mendapat dukungan penuh dari saya (Guojun Fashi). Tetapi pada semua hal, niat/tujuan (intention) perlu diperhatikan. Dan tindakan-tindakan yang berasal dari rasa takut hendaknya dijauhi.

Adalah bodoh untuk meninggalkan kota karena takut padanya. Melarikan diri dari masalah-masalah kita adalah suatu tindakan kebodohan (ignorance).

Ada banyak praktisi yang jatuh pada perangkap ini. Mereka sangatlah sungguh-sungguh dalam komitmen mereka terhadap Dhamma. Saya mengetahui ini dan sangat menghargai hal tersebut. Perangkap ini sangat "halus". Jadi tidaklah mengejutkan bahwa banyak yang jatuh padanya.

Ada 2 konsep yang bekerja bersama-sama untuk menciptakan "jurang": materialisme spiritual dan berpikir bahwa Nibbana terpisah dari Samsara.

Materialisme spiritual

Para materialis spiritual "bersembunyi" dalam semua praktisi pada tingkat tertentu. Itu merupakan bagian dari kita yang menginginkan praktik spiritual sebagai sebuah "gelar" (credential), sesuatu untuk dibanggakan, sesuatu yang menjadi "tempat bergantung" untuk mendapatkan kebahagiaan. Para materialis menengah bergantung pada hal-hal seperti status, kekayaan, pencapaian, nama besar dan sejenisnya. Dalam setiap kasus, para materialis mencari objek yang mereka pikir akan membawa kebahagiaan pada mereka. Dia berpikir: "Saya bekerja keras sekarang, dan saya tidaklah bahagia. Tapi itu bukan masalah karena sebentar lagi aku akan mendapat promosi (atau mobil baru, atau pasangan cantik .... apapun itu), dan kemudian aku akan bahagia. Setelah itu aku akan dicintai, dan aku tidak akan pernah merasa (tidak perlu) takut atau merasa tidak utuh lagi." Ini adalah cara sebagian besar orang berpikir. Ini adalah hal yang biasa (natural). Tetapi pemikiran seperti ini yang membuat hidup berputar-putar dalam siklus penderitaan tiada akhir. Masalah ini sudah jelas bagi mereka yang sungguh-sungguh berkomitmen dalam praktik spiritual. "Bagaimana kebahagiaan datang dari mendapat promosi?" kata sang praktisi. "Tidak, kebahagiaan harus datang dari dalam", sang praktisi menyimpulkan. Sejauh ini sungguh baik. Tetapi apa yang terjadi ketika sang praktisi berkata: "Saya harus menjadi pakar dalam praktik, dan hanya dengan begitu nantinya saya bisa bahagia. Hanya dengan begitu akankah saya memiliki kapasitas untuk menolong lainnya?" Pada intinya (esensial), dia melakukan hal yang sama dengan para materialis, perbedaannya para materialis mengejar promosi duniawi sedangkan materalis spiritual mengejar promosi spiritual. "Begitu saya telah "membasmi" semua pikiran terpencar.... begitu saya dapat dengan konsisten memasuki samadhi..... begitu saya telah melihat Hakikat..... hanya setelah itu ....."

Praktik di dunia Samsara: Nibbana berakar pada Samsara

Ada beberapa yang mencari "sedikit" kebahagiaan-ketenangan (bliss) untuk lari dari dunia. Tidaklah baik untuk menerjunkan-diri (engage) dalam pengejaran tataran/kondisi (state-chasing) seperti itu. Itu merupakan suatu kecanduan jenis lain. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tidak hanya mencari kebahagiaan-ketenangan samadhi? Bagaimana jika mereka sungguh-sungguh ingin menolong/membantu orang lain tetapi merasa bahwa mereka tidak cukup mampu? Apakah Saya tetap mengkritisi orang-orang tersebut? Ya. Masalah ini bersifat halus (subtle). Saya telah memperhatikan bahwa banyak dari mereka yang meninggalkan kota adalah orang-orang yang pencapaiannya banyak (high-achiever). Mereka sangat mampu, rajin dan orang-orang yang bersungguh-sungguh. Dan tidak ada yang salah dengan menjadi seorang yang banyak pencapaiannya. Faktanya, ini dapat menjadi hal yang sangat baik. Tetapi semua hal-hal baik menjadi salah ketika tidak dimengerti dengan tepat. Salah satu cara pandang orang-orang yang pencapaiannya tinggi dapat menjadi salah dalam konteks praktik, adalah ketika mereka mencari kondisi berpraktik yang sempurna. Saya tahu seorang praktisi yang membuat suatu ikrar besar (fervent) untuk mencapai ke-Buddha-an. Pertama, dia mencoba untuk bermeditasi di kota. Tetapi kota sangatlah berisik. Bagaimana seseorang tidak terganggu dengan orang-orang gila, anjing-anjing yang menyalak, mobil-mobil yang membunyikan klakson? jadi kemudian dia pindah ke pinggiran kota. Dia hidup sebagai seorang "hermit" di dekat sungai kecil (stream). "Tempat yang sungguh damai" pikirnya, "Akhirnya aku dapat sepenuhnya fokus pada praktikku". Tetapi begitu dia duduk dan memejamkan matanya, dia menyadari bahwa sungai kecil itu penuh dengan katak, serangga dan burung. Tidak satupun dari mereka yang akan diam! Kemudian dia pindah lagi ke sebuah gua di gunung. Di dalamnya sangatlah gelap hingga dia bahkan tidak dapat melihat tangannya sendiri. Tempat yang sungguh sempurna untuk berpraktik. Tetapi ada sebuah masalah: suara angin berhembus. Tidak menyerah, dia menutup telinganya dengan penutup (earplugs). Pada titik ini, dia tidak terganggu oleh apapun kecuali detak jantungnya sendiri. Pada akhirnya dia berkata kepada Saya bahwa berpraktik tidaklah mungkin di dunia ini. Praktisi ini menghabiskan banyak sekali waktunya untuk mencari kondisi sempurna untuk berpraktik sehingga tidak ada sedikitpun waktunya untuk berpraktik. Tidak heran dia tidak dapat "melawan" detak jantungnya sendiri.

Ini tidak berarti bahwa praktisi tidak perlu mengikuti retreat intensif. Perbedaannya adalah bahwa retreat adalah untuk jangka waktu tertentu. Praktisi tahu bahwa dia akan kembali ke "kegilaan" (insanity) hidup sehari-hari. Mereka yang mengikuti retreat tidak seharusnya datang dengan sikap untuk lari dari dunia dan tanggung jawabnya. Akan tetapi, mereka sebaiknya "meletakkan" semuanya sementara waktu. Dan yang terpenting, saya menyarankan peserta retreat untuk memiliki sikap dimana "meletakkan" welas-asihnya. Mereka "meletakkan"nya sementara sehingga nantinya mereka dapat mengambilnya kembali dengan lebih sadar (mindfulness), lebih lembut (gentleness), dan lebih indah (grace) setelah retreat. Semua praktisi perlu untuk memeriksa diri mereka sendiri secara dekat dan menemukan apa niat/tujuan (intention) mereka yang sesungguhnya. Apakah welas asih? Atau apakah ketakutan (fear) yang berparade (bersembunyi) sebagai welas asih?

Masalah lain dengan orang yang pencapaiannya tinggi adalah seringkali pencapaian mereka menyediakan suatu perlindungan dari dunia nyata. Pernahkah kamu bertemu seseorang yang tahu dengan pasti segala hal tentang pekerjaan/keahliannya, tetapi bermasalah dalam mengerjakan pekerjaan ringan sehari-hari? Dalam logika, adalah benar bahwa lebih mudah menjadi seorang praktisi handal di pinggiran kota daripada di kota. Tetapi kebanyakan mereka yang telah handal berpraktik di pinggiran kota sangatlah tidak siap untuk berpraktik di kota. Mereka menspesialisasikan diri untuk berpraktik dengan baik di tempat yang sunyi dan damai. Dengan demikian, mereka akan menderita/tidak nyaman (vexed) ketika diminta berpraktik di tempat yang berisik dan kacau. Mereka menjadi melekat pada ide/konsep (notion) bahwa mereka adalah praktisi handal, jadi mereka melarikan diri dari situasi yang membuktikan sebaliknya. Di sini, praktik mereka "macet" (stagnates). Tetapi, orang-orang tersebut adalah praktisi handal... tetapi hanya ketika kondisinya cocok bagi mereka.

Dualitas mendapatkan dan kehilangan

Tetapi semua ini dikelilingi oleh kesalahpahaman dalam berpikir tentang semua hal, dalam konteks berhasil dan gagal. Jika saya gagal meraih promosi, saya telah gagal. Jika saya tidak mendapat nilai terbaik, saya telah gagal. Kegagalan tidak dapat diterima. Hanya kegagalan yang gagal. Jadi ketika kita mulai berpraktik dan menemukan bahwa kita tidak membuat kemajuan, kita merasa kita telah gagal. Kondisi kota terlalu kacau untuk pikiran (mind) kita yang lemah (feeble). Kita merasa terinjak-injak (overwhelmed). Karena kita lemah dan kita buruk, kita harus meninggalkan kota sehingga kita dapat melatih pikiran (mind) kita untuk menjadi kuat. Hanya dengan begitu kita dapat kembali ke kota. Hanya dengan begitu kita akan berhasil dalam menghormati Dhamma. Ini adalah sebuah masalah. Ketika kita berpraktik dengan benar, kita secara konstan mengingatkan diri kita bahwa dalam realita tidak ada hal yang disebut mendapat atau kehilangan. Tidak ada sukses atau gagal. Ketika kita melibatkan diri kita dengan perihal mendapat dan kehilangan, kita mencari kesuksesan dan lari dari kegagalan. Ketika rasa takut akan kegagalan menjadi akar/dasar dari keputusan praktisi untuk meninggalkan kota, Saya harus protes/menolak.

Apakah rasa takut ini? Tidak lain merupakan kemelekatan pada "diri". Ini karena saya (kita) belum hidup sesuai dengan harapan saya, jadi saya gagal. Tetapi kemelekatan pada "diri" adalah hal biasa (normal). Kita semua melekat pada "diri" pada tingkat tertentu. Apakah ini, dari sudut pandang Buddhist menjadikan kita semua kegagalan? Apakah ini berarti bahwa kita semua harus menjadi Master Buddhist yang berhasil sebelum kita dapat tinggal di kota?

Berkomitmen pada praktik

Kegagalan tidaklah pernah merupakan sebuah kegagalan jika kita menggunakannya sebagai suatu cara yang tepat dan welas asih (skillful and compassionate way) dalam melihat diri kita. Setiap kesempatan, ketika karena "kegilaan" (madness) kehidupan kota, kita menjadi marah, bingung, iri atau menderita, kita memiliki kesempatan yang sempurna untuk memperdalam pengertian kita terhadap sikap menghibur-diri kita. Melihat diri sendiri adalah sulit. Ada banyak sekali ketakutan dalam diri kita. Ada banyak sekali rasa kekurangan (neediness). Kita semua ingin bahagia. Kita semua ingin dicintai. Dan kita semua juga takut bahwa kita tidak berhak untuk itu. Ada monster penderitaan yang bersembunyi dalam diri kita semua.

Tetapi adalah dengan belajar menghadapi, menerima dan mencintai monster yang kita pelihara ini sebagai manusia. Dan inilah praktik. Praktik bukanlah akhir dari penderitaan. Praktik adalah mengahadapi mereka. Ada seorang Bhikku Thailand yang saya kenal. Dia tinggal di sebuah hutan yang tenang dan damai dengan harimau-harimau! Dia tinggal dengan sebuah keluarga harimau liar. Dia telah menjadi teman harimau-harimau tersebut dan hidup dalam harmoni dengan mereka. Begitu juga dengan penderitaan kita. Kita perlu belajar untuk menerima ketidaksempurnaan kita, kebingungan kita, penderitaan kita. Kita perlu belajar untuk tidak takut pada ketakutan kita. Dan ketika kita melihat dengan jelas (deeply) hakikat dari penderitaan kita, kita menyadari bahwa sejak awal, mereka tidaklah beda dari kebijaksanaan dan welas-asih. Tidak berbeda dengan hakikat ke-Buddha-an itu sendiri. Seperti yang dijelaskan Sutra Hati, Nibbana tidaklah berbeda dari Samsara dan Samsara tidak berbeda dari Nibbana. Jika kamu berusaha meraih Nibbana dengan melarikan diri dari Samsara, jika kamu berusaha memajukan praktikmu dengan melarikan diri dari kota, maka kamu sedang jatuh pada perangkap tua yang sama, yaitu rasa tidak suka dan keinginan kuat (aversion and craving).

Pergi ke pinggiran kota untuk berlatih hanya merupakan cara lain untuk mencari praktik di luar sana. Adalah jelas bahwa karena praktik ada di dalam (within), jadi tidak ada yang perlu dicari (there's nothing to seek). Ini tidaklah mudah. Jika tidak mencari mencari apapun (seeking nothing) adalah mudah, maka kita semua tentu sudah menjadi Buddha. Faktanya, ini merupakan hal tersulit di dunia. Jadi akan menjadi tidak beralasan untuk mengharapkannya didapatkan pada kesempatan pertama. Kita tidak memiliki cukup welas-asih kepada diri kita sendiri, untuk merasa OK dengan perasaan bahwa hidup kita adalah sangat baik (too much). Kita perlu kembali, dari waktu ke waktu untuk memajukan praktik kita. Satu langkah pada satu waktu. Karena itulah ia disebut latihan (practice). Kita tetap melakukannya. Kita jatuh. Kita bangun lagi. Bernafas dan tersenyum.

Tetapi menghadapi penderitaan kita secara langsung dan pada waktu yang bersamaan adalah sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu. Kita perlu penengah (intermediary). Jika kita tidak dapat menghadapi harimau-harimau liar dengan kekuatan welas-asih kita, maka adalah masuk akal untuk pertama melihat harimau-harimau tersebut dari belakang pagar. Dalam batin (mind) kita, pagarnya adalah nafas dan senyum.

Gunakan setiap penderitaan sebagai sebuah pengingat untuk kembali ke nafas dan senyum yang lembut. Kapan kita harus melakukan ini? Setiap saat. Lagi dan lagi, hingga harimau dan kita sudah sangat terbiasa dengan keberadaan masing-masing dan pagarnya tidak lagi diperlukan.

Selamat datang ke Jalan

Praktisi sering mengadu bahwa sejak mereka mulai berpraktik, hidup mereka terasa menjadi lebih buruk. Sejak mereka belajar 4 kesunyataan mulia, semua yang mereka lihat adalah penderitaan! Sebagai jawabannya, Saya berkata: "Selamat, praktik anda sedang mengalami kemajuan." Bagaimana praktik bisa mengalami kemajuan jika kita merasa lebih menderita? Tidakkah praktik merupakan penghilangan penderitaan? Iya dan tidak. Kamu menghilangkan penderitaan dengan menembus ke dalam hakikat sejati penderitaan itu, tidak dengan menekannya, mendorongnya atau menghancurkannya. Sebelum kamu dapat menembus penderitaan, pertama-tama sekali kamu perlu melihat bahwa mereka ADA di sana. Jadi hidupmu terasa lebih buruk? Kamu tidak merasakan nikmat (joy), kedamaian dan keseimbangan batin (equanimity) yang kamu harapkan dari praktik Buddhist? Yah, Saya katakan pada anda, selamat datang ke Jalan!

Saya ingin mengingatkan murid-murid saya bahwa bunga teratai tumbuh di kolam kotoran. Akarnya ada di dalam sesuatu yang sangat kotor dan menjijikkan (filth). Nibbana berakar pada Samsara. Adalah di dalam Samsara, Buddhadhamma diperlukan, dan lebih jauh, hanya karena Samsara-lah, Buddhadhamma dimungkinkan. Jadi saya mengundang semua praktisi Buddhist untuk tinggal di kota. Praktik anda (your flowering) diperlukan di sana. Dan ada banyak sekali "bahan praktik" (fertilizer) untuk digunakan dimana-mana.

~Guo Jun Fa Shi~

12.00 pm 30 nopember 2009